Kiat Menghadapi Krisis Rupiah

Kembali ke indeks

Pertanyaan:

Saya seorang pekerja di sebuah industri di Batam. Selama ini gaji saya dibayar dalam rupiah. Nah, belakangan ini rupiah bergejolak makin tajam, sehingga rasanya gaji saya makin tidak berarti. Apalagi di Batam banyak sekali pembayaran yang juga dilakukan dalam dolar Singapura. Yang ingin saya tanyakan:

  1. Apakah sebaiknya saya langsung menyimpan gaji dalam dolar?
  2. Apakah dolar Singapura cukup andal sebagai tempat menyimpan gaji?
  3. Saya punya sedikit tabungan, dalam keadaan seperti ini sebaiknya disimpan dalam bentuk investasi apa?
Terima kasih.


Jawaban:

Dalam situasi begini, yang paling menguntungkan, tentu saja, bila penghasilan Anda diterima dalam dolar sementara pengeluaran dilakukan dalam rupiah. Karena itu, yang paling nyaman dengan gejolak rupiah kini, boleh jadi, adalah tenaga ahli asing yang hidup di Indonesia. Yang runyam adalah teman-teman saya yang menyekolahkan anaknya di Amerika Serikat, yang selama ini bujet bulanannya dianggarkan dalam rupiah.

Anda kebetulan berdomisili di daerah dengan lalu lintas perdagangan barang dan jasa yang lebih bebas. Pada satu sisi Anda dapat menikmati barang-barang asing itu dengan harga yang lebih murah. Di sisi lain, banyak transaksi yang harus dilakukan dalam mata uang asing, sementara penghasilan Anda diberikan dalam rupiah.

Karena itu, perlindungan optimal bagi Anda adalah dengan pembayaran gaji karyawan dalam dolar AS, atau minimal dalam dolar Singapura. Ini harus

Anda usulkan kepada perusahaan tempat Anda bekerja. Dolar Singapura merupakan satu-satunya mata uang Asia Tenggara yang tahun-tahun lalu menguat terhadap dolar AS. Walaupun beberapa bulan terakhir ikut tergerus arus depresiasi mata uang regional, dolar Singapura merupakan mata uang yang paling kuat bertahan.

Menukar semua tabungan dalam rupiah menjadi dan untuk disimpan dalam bentuk dolar Singapura, menurut hemat saya sama sekali tidak menguntungkan. Pertama, kini bukan saat yang tepat untuk menyimpan likuiditas dalam bentuk valuta asing. Penukaran rupiah dengan dolar AS seharusnya dilakukan pada awal Juli lalu, ketika rupiah masih punya nilai. Bukankah membeli barang akan menguntungkan bila dilakukan pada saat harganya murah? Memang betul bahwa saat ini masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap rupiah. Tapi tak ada satu alasan rasional pun yang bisa menjelaskan kenapa harga rupiah tidak naik kembali.

Saya pribadi meyakini bahwa kurs rupiah tidak akan melewati Rp 4.000 per dolar AS. Tak ada negara yang diuntungkan dengan turunnya kurs rupiah sejauh itu. Bahkan, kalau pernyataan Soros beberapa waktu lalu bahwa ia membeli rupiah benar, maka dana yang dikelolanya pun mulai mengalami kerugian dari turunnya rupiah.

Kedua, dalam gejolak seperti ini, perbedaan kurs beli dan kurs jual (spread) mata uang asing menjadi makin lebar. Spread itu merupakan biaya yang harus ditanggung oleh mereka yang melakukan transaksi. Makin sering

Anda melakukan jual beli valas, makin besar biaya transaksi yang Anda pikul.

Ketiga, perbedaan tingkat bunga yang sangat besar. Kalau simpanan dalam dolar Singapura hanya memberikan bunga 6% - 7% per tahun, simpanan rupiah kini masih menghasilkan lebih dari 20% per tahun. Karena itu, menyimpan tabungan Anda dalam deposito rupiah (berjangka waktu satu atau tiga bulan) merupakan pilihan yang paling menguntungkan, walaupun dengan embel-embel "hati-hati memilih bank". Anda bisa memilih bank publik papan atas atau bank pemerintah yang sehat.

Hal lain yang bisa Anda lakukan adalah mengurangi sejauh mungkin konsumsi yang harus dipenuhi dengan mata uang asing, atau membeli barang-barang impor. Saya kira, walaupun Anda tinggal di Batam, seluruh kebutuhan primer dan sekunder tentu dapat dipenuhi dengan produksi dalam negeri yang berlabel rupiah. Mudah-mudahan bisa membantu. Salam.





Kembali ke indeks