Pertanyaan:
Dari pengalaman main saham saya menyimpulkan:
- Persentase keberhasilan main netting relatif kecil ketimbang main
beli-simpan-jual.
- Dalam kondisi krisis moneter, akan lebih baik main berpasangan, yaitu
main saham dibarengi dengan valas. Pada waktu dolar naik, kita jual
dolar, hasilnya untuk beli saham yang biasanya lagi turun dan
sebaliknya. Pertanyaan saya:
- Mohon tanggapan atas kesimpulan di atas.
- Di mana saya bisa main valas? Jika main di bank, rentang perbedaan
jual dan beli relatif besar, jadi agak sulit dapat untung.
- Saya pernah dengar, di samping Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek
Surabaya (BES), di Indonesia ada pula bursa paralel;
- Di manakah tempatnya?
- Apa saja kegiatannya?
- Apakah di sana ada pula bursa valas?
- Kalau ada bagaimana sistem perdagangannya?
- Mengapa kegiatan bursa paralel tidak pernah dilaporkan oleh media
cetak seperti BES dan BEJ?
Atas perhatian Bapak saya ucapkan terima kasih.
Jawaban:
Simpulan yang Anda peroleh dari pengalaman
tampaknya memperkuat berbagai kajian empiris di bidang investasi. Di
sekolah, cara pendekatan investasi selalu dibagi ke dalam analisis
teknis dan analisis fundamental.
Pada analisis teknis - yang Anda bahasakan dengan netting - seorang pemodal berusaha mencari keuntungan dari kecenderungan harga jangka pendek. Mereka mencoba memprediksikan
tren harga yang akan datang dengan menggunakan gerak harga dan volume
masa lalu. Sementara cara pendekatan fundamental - yang Anda sebut
dengan simpan jual - mencoba memperoleh keuntungan dari peluang
pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang.
Saya belum pernah membaca hasil penelitian mengenai perbandingan unjuk
hasil antara kedua pendekatan tersebut yang berasal dari kajian pasar
modal Indonesia. Bukti empiris yang ada baru sebatas hasil kajian yang
menunjukkan bahwa keuntungan abnormal dapat diperoleh dengan strategi
membeli penawaran saham BUMN di pasar perdana untuk segera dijual begitu
saham tersebut memasuki pasar sekunder.
Dari beberapa kajian empiris yang saya baca di jurnal - seperti kajian
Fama & Blume, untuk menyebut satu di antaranya - pada umumnya memperoleh
simpulan yang sama seperti pengalaman Anda: bahwa strategi netting
seperti yang Anda maksudkan tidak memberikan keuntungan lebih baik
daripada cara beli dan simpan.
Simpulan Anda yang kedua juga memiliki dasar yang sangat logis. Uang
(baca: tabungan) tak ubahnya seperti air yang berada di dalam tabung
bundar yang berputar. Air tersebut akan bergerak ke sana ke mari
mengikuti kecepatan gerak perputaran tabung. Uang yang mengalir ke pasar
uang adalah uang yang sama yang mengalir ke pasar modal, ke valas, ke
aktiva fisik, dan lain-lain.
Menyebarkan dana investasi Anda ke dalam berbagai objek investasi itu
merupakan esensi diversifikasi. Korelasi negatif antara tingkat bunga
simpanan perbankan dan harga saham memang telah terbukti. Artinya, saat
tingkat bunga simpanan naik, harga saham cenderung mengalami penurunan,
dan sebaliknya. Karena itu, melakukan investasi "pasangan" antara
simpanan perbankan dan saham, atau "pasangan" antara surat utang jangka
pendek dan jangka panjang, atau pasangan antara saham perusahaan
perminyakan dan perusahaan penerbangan, sebagai contoh, telah terbukti
mampu mengurangi risiko investasi.
Tapi, menggandengkan antara saham dan valas, terus terang, tak berani
saya simpulkan. Salah satu faktor yang umumnya mengakibatkan penurunan
nilai tukar sebuah mata uang adalah tingkat inflasi yang relatif lebih
tinggi. Tingkat inflasi yang lebih tinggi pada suatu negara akan
mengakibatkan daya beli mata uang negara tersebut menjadi relatif lebih
rendah dibandingkan dengan mata uang negara yang tingkat inflasinya
lebih rendah. Dengan mengesampingkan si-tuasi khusus yang kita hadapi
kini, tingkat inflasi yang tinggi kerap terjadi justru pada saat ekonomi
mengalami ekspansi, yang juga ditandai dengan naiknya harga saham. Jadi,
naiknya kurs dolar terhadap rupiah tak bisa secara serta-merta diikuti
oleh turunnya harga saham.
Sejak tahun 1989, kita memiliki tiga bursa efek, yaitu BEJ, BES, dan
bursa paralel (BP). Ketiga bursa tersebut hanya memperdagangkan
efek-efek dan tidak memperdagangkan valas. Perdagangan valas jauh lebih
kompleks daripada hanya mencari keuntungan dari gerakan kurs rupiah
terhadap dolar AS. Untuk penjelasan lebih lanjut Anda bisa menghubungi
salah satu pedagang valas atau kantor cabang salah satu bank devisa.
Pendirian BP dilatarbelakangi oleh keinginan pemerintah untuk memberikan
akses kepada perusahaan - yang belum memenuhi persyaratan pencatatan di
BEJ dan BES - untuk masuk pasar modal. Namun, karena
perusahaan-perusahaan tersebut terlalu kecil untuk memenuhi skala
ekonomis emisi, minat investor juga kecil, sehingga saham-sahamnya
tidak likuid, BP tidak bisa berkembang baik. Pada 1995 BP melakukan
penggabungan dengan BES. Sejak itu, semua informasi yang berkaitan
dengan aktivitas BP terintegrasi dalam informasi yang dikeluarkan BES.
Untuk mengetahui seluk-beluk BP, termasuk sistem perdagangannya, silakan
menghubungi humas BES. Salam.
|